Saturday, 13 April 2013

UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA BAHASA JAWA
MELALUI PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING
SISWA KELAS VIII A SEMESTER I SMP NEGERI 2
PURWANTORO TAHUN PELAJARAN 2012/2013


Oleh  :
TITIK SETIYOWATI, S.Pd.
NIP. 19721226 199702 2 002

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN WONOGIRI
SMP NEGERI 2 PURWANTORO

ABSTRAK
Membaca merupakan salah satu objek pengajaran bahasa jawa, di dalam kurikulum yang disempurnakan, membaca tersirat dalam pelajaran menulis. Membaca sangat berguna dalam aspek kehidupan bermasyarakat, di mana saja dan kapan saja. Penggunaan Keterampilan membaca yang baik sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini. Oleh karena itu pelajaran membaca di sekolah menengah pertama harus mendapat perhatian yang sungguh – sungguh.
    Selama ini pembelajaran bahasa jawa di dalam kelas banyak menggunaka metode ceramah yang sifatnya teoritis sehingga siswa mengalami kesulitan dalam pemahaman materi pelajarannya. Dampaknya siswa menganggap pelajaran sulit dan tidak menarik. Hal ini dapat di tunjukkan dari hasil evaluasi ( ulangan harian ) siswa yang banyak memperoleh nilai di bawah Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM). Untuk mencari pemecahan dari masalah tersebut perlu di cari model pembelajaran bahasa jawa yang bagaimanakah yang sesuai dan dapat meningkatkan penguasaan materi pelajaran pada siswa.
Desain penelitian menggunakan action research kuantitatif, yaitu mengetahui dan mendeskripsikan ada tidaknya peningkatan keterampilan membaca melalui model pembelajaran kooperatif siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Purwantoro Wonogiri tahun pelajaran 2012/2013 melalui skor yang diperoleh siswa. Data diambil dari peningkatan keterampilan membaca melalui model pembelajaran kooperatif melalui tes dan observasi kemudian dianalisis dengan teknik deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh skor.
Hasil analisis data diperoleh skor rata-rata peningkatan keterampilan membaca melalui lodel pembelajaran kooperatif pada penelitian siklus I adalah 62,92 siklus II adalah 71,94 dan pada siklus III mencapai 82,08. Hasil penelitian dari proses KBM dengan model pembelajaran kooperatif dapat disimpulkan bahwa prosentase siswa menjawab sangat setuju pada siklus I 24,44%. Pada siklus II 41,11% dan pada siklus III mencapai 55,56% terhadap pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Dari analisis data menunjukkan bahwa pada siklus ketiga 68,89% sangat senang, 31,11% senang dan 0% tidak senang. Paling banyak siswa menjawab sangat senang terhadap pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif . Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca dengan model kooperatif sangat disenangi siswa. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan keterampilan membaca melalui model pembelajaran kooperatif siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Purwantoro Wonogiri tahun pelajaran 2012/2013
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan pembelajaran berbasis Cooperative Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan kepada guru bahwa untuk meningkatkan prestasi belajar Bahasa Jawa khususnya, pelajaran membaca perlu menerapkan pembelajaran Cooperative Learning.


BAB I
PENDAHULUAN


Latar Belakang Masalah
    Membaca merupakan salah satu objek pengajaran Bahasa Jawa, di dalam kurikulum yang disempurnakan membaca tersirat dalam pelajaran menulis. Membaca sangat berguna dalam aspek kehidupan bermasyarakat, di mana saja dan kapan saja. Penggunaan keterampilan membaca yang baik sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini. Orang yang tidak mampu membaca akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh posisi dalam kehidupan masyarakat. (Syafi’i, 1996:62). Oleh karena itu pelajaran membaca di sekolah menengah pertama harus mendapat perhatian yang sungguh – sungguh.
Hasil dan proses pembelajaran Bahasa Jawa umumnya dipengaruhi oleh variabel metode pembelajaran. Variabel-variabel pembelajaran terdiridari tiga, yaitu variabel kondisi pembelajaran, variabel metode dan variabel hasil pengajaran. Variabel kondisi pembelajaran merupakan faktor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran Bahasa Jawa. Variabel metode berinteraksi dengan variabel kondisi pembelajaran, yang terdiri atas tujuan pembelajaran, karakteristik mata pelajaran, kendala dan karakteristik siswa. Sedangkan hasil pembelajaran dapat berupa hasil pembelajaran yang diinginkan yang telah ditetapkan terlebih dahulu dan hasil pembelajaran yang nyata. Hal ini sering disebut sebagai perolehan hasil belajar (J.J. Hasibuan, 2005:132).
Karakteristik siswa berupa bakat, motivasi dan kemampuan yang telah dimiliki siswa mempengaruhi pemilihan strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian, disamping pengaruh utama pada strategi pengelolaan pemgajaran. Penelitian tentang tingkat perkembangan kognitif, motivasi berprestasi dan kemampuan awal sebagai variabel prediktor belum banyak dilakukan. Oleh karena itu penelitian yang mendeskripsikan variabel-variabel tersebut di atas perlu dilakukan, khususnya pada jenjang pendidikan sekolah menengah pertama.
Sejumlah teori telah dikembangkan untuk menjelaskan perkembangan kognitif anak. Salah satu teori tersebut yang benyak menaruh perhatian pada masalah bagaimana anak belajar dan memperoleh pengetahuan adalah tori perkembangan intelektual Jean Piaget. Menurut teori ini, struktur intelektual berkembang melalui empat tahap, yaitu (1) tahap sensori motor (2) tahap praoperasi, (3) tahap operasi konkret, dan (4) tahap operasi formal (dalam Dahar, 1998:18). Keempat tahap ini terjadi secara berurutan. Seorang anak tidak dapat melangkah dari tahap praoperasi ke tahap operasi konkrit.
Tingkat kesanggupan berpikir sebagai operasi formal, telah banyak menarik perhatian pendidik. Perhatian ini timbul karena dua alasan. Alasan pertama, kesanggupan berpikir formal merupakan tingkat kesanggupan berpikir tertinggi dalam hirarki perkembangan intelektual. Artinya sesudah mencapai tingkatan ini tidak ada lagi struktur perkembangan intelektual yang secara kualiatif lebih tinggi tingkatannyandari pada struktur berpikir formal ( Ardhana, 1983:45 ).
Selama ini pembelajaran bahasa jawa di dalam kelas banyak menggunakan metode ceramah yang sifatnya teorotis sehingga siswa mengalami kesulitan dalam pemahaman materi pelajarannya. Dampaknya siswa menganggap pelajaran sulit dan tidak menarik. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil evaluasi ( Ulangan harian ) siswa yang banyak memperoleh nilai di bawah Standart Ketentuan Belajar Minimal ( SKBM ). Untuk mencari pemecahan dari masalah tersebut perlu dicari model pembelajaran bahasa jawa yang bagaimanakah yang sesuai dan dapat meningkatkan penguasaan meteri pelajaran pada siswa.
Tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi mencakup isi dan memahami makna bacaan, diantaranya adalah : 1) untuk memperoleh rincian fakta – fakta, 2) untuk memperoleh ide – ide atau gagasan, 3) untuk mengetahui suatu susunan, 4) untuk menarik kesimpilan, 5) untuk dapat mengklasifikasikan ide – ide tertentu, 6) untuk memberikan penilaian atau evaluasi, 7) untuk membandingkan atau mempertentangkan ( Tarigan, 1979:9).
Membaca merupakan salah satu dari empat macam ketrampilan berbahasa dan pada dasarnya merupakan perbuatan yang dilakukan pesan tertulis. Dengan kata lain menbaca adalah kegiatan untuk memahami isi dari suatu wacana. Kegiatan membaca tersebut menuntut adanya beberapa ketrampilan, antara lain : ketrampilan menggerakkan mata, ketrampilan mengamati, memahami, memikirkan serta menginterprestasikan isi dari wacana.
Dapat dikatakan membaca bukan hanya menyuarakan lambang-lambang serta tulisan. Membaca menurut seseorang untuk memahami isi wacana. Dari kegiatan membaca terkandung beberapa kesimpulan tentang tujuan membaca, yaitu :
Membaca buku-buku pengetahuan bertujuan memahami isi buku bacaan tersebut.
Membaca buku humor atau komedi bertujuan untuk menghibur.
Membaca merupakan hal sangat besar peranannya dalam kehidupan manusia, maka kegiatan tersebut merupakan kurikulum yang diajarkan kepada siswa sejak dini. Membaca bukan merupakan pelajaran yang berdiri sendiri, tetapi berada dalam pelajaran bahasa jawa. Di pendidikan dasar termasuk sekolah menengah, pelajaran membaca tingkat lanjut. Membaca permulaan dilakukan pada siswa sekolah dasar, sedangkan membaca lanjutan dilakukan di sekolah menengah pertama karena siswa sudah termpil dan menyuarakn dengan benar.
Ketrampilan berbahasa terdiri dari empat aspek, yaitu : menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Manfaat serta fungsi keempat aspek tersebut jelas sangat berbeda, namun tidak dapat dipisah-pisahkan karena pada akhirnya berbahasa. Jadi seseorang dikatakn terampil berbahasa apabila terampil membaca, terampil menyimak, terampil berbicara dan terampil menulis.
Kegiatan membaca untuk anak sekolah menengah perlu dilatihkan oleh guru agar mencapai hasil yang maksimal. Pencapaian hasil maksimal pembelajaran membaca dapat dicapai dengan cara memilih teknik, media dan metode pembelajaran yang tepat. Salah satu metode yang efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa adalah dengan model pembelajaran kooperatif.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran perlu persiapan yang sebaik-baiknya sehingga dalam kegiatan di kelas tercipta kondisi yang merangsang siswa untuk belajar. Selain itu juga dapat menciptakan kondisi atau suasana belajar yang menyenangkan. Siswa merasa tenang dan semangat tinggi, sehingga kemampaun dan ketrampilan siswa berkembang.
Pada penelitian tindakan kelas ini, penulis mencoba agar siswa dapat termotivasi menguasai materi pelajaran bahasa jawa khususnya ketrampilan membaca dengan baik melalui model pembelajaran kooperatif ( Cooperative Learning / CL ), yaitu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil dengan beranggotakan siswa-siswa yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Setiap anggota kelompok saling bekeraj sama dalam mengerjakan tugas. Belajar dikatakan belum selesai jika ada anggota kelompok yang belum menguasai bahasa pembelajaran. Dengan memperhatikan permasalahan di atas, maka penulis melakaukanpenelitian tindakan kelas dengan judul “Upaya peningkatan ketrampilan membaca Bahasa Jawa melalui pembelajaran Coopertaive Lerning siswa kelas VIIIA semester I SMPN 2 Purwantoro Wonogiri tahun pelajaran 2012/2013’’.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatkan identifikasi masalah sebagai berikut :
Bagaimanakah pendekatan yang cocok dalam pengembangan model pembelajaran ketrampilan membaca ?
Teknik apa saja yang mungkin digunakan dalam pengembangan model pembelajaran membaca ?
Apakah penguasaan ketrampilan membaca dapat ditingkatkan dengan model pembelajaran kooperatif ?
Apakah model pembelajaran kooperatif dapat membantu meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran membaca ?

Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalh dan identifikasi masal di atas, penelitian tindakan kelas ini dibatasi pada masalah-masal:
Pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif dikhususkan pada upaya peningkatan ketrampilan membaca.
Hal yang diamati dalam model pembelajaran kooperatif adalah kecepatan dan pemahaman siswa terhadap bacaan.

Rumusan Masalah
    Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Adakah peningkatan keterampilan membaca Bahasa Jawa melalui pembelajaran Cooperative Learning siswa kelas VIIIA semester I SMPN 2 Purwantoro Wonogiri tahun pelajaran 2012/2013 ?”

Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk meningkatkan Keterampilan membaca bahasa jawa melalui pembelajaran cooperative learning siswa kelas VIIIA SMP Negeri  2 Purwantoro Wonogiri tahun pelajaran 2012/2013.
Tujuan Khusus
Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan Keterampilan membaca melalui pembelajarn kooperatif siswa kelas VIIIA SMP Negeri  2 Purwantoro Wonogiri tahun pelajaran 2012/2013.




Manfaat Penelitian
Manfaat teoretis
Meningkatkan Keterampilan membaca siswa melalui pembelajaran kooperatif


Manfaat Praktis
Manfaat bagi siswa
Dapat menerapkan dan menguasai materi membaca dengan baik.
Manfaat bagi guru
Dapat mempermudah mentrasfer materi membaca dan mendapatkan informasi tentang kemajuan siswa.
Manfaat bagi sekolah
Mendapatkan informasi tentang model pembelajaran bahasa jawa khususnya materi membaca dan dapat meningkatkan kualitas lulusan sekolah.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Kajian Pustaka
Ketrampilan Membaca
Membaca adalah proseskejiwaan yang sangat rumit dan berlangsung pada diri pembaca. Membaca pada hakikatnya mengkonstruksi amanat yang tersurat dan tersirat pada bahan bacaan yang dihadapinya ( Depdikbud, 1987:10 ).
Kemampuan membaca adalah hasil proses belajar dan pembentukan kebiasaan yang terus menerus. Menurut uria Bait dalam bukunya bahasa dan informasi, membaca adalah sebagai jenis kemampuan yang gejalanya dapat di hayati berupa (1 ) kemampuan menguasai bahasa tulis yang mewadahi gagasan dalam bacaan, (2) kemampuan mengidentifikasi dan memahami gagasan dalam bacaan, dan (3) kemampuan memahami sikap penulis terhadap masalah yang di tulinya dan terhadap pembacanya  ( 1987 : 11 ).
Ketrampilan membaca yang dimaksudkan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah membaca komprehensif. Oleh karena itu, gejalanya dapat dilihat pada kemampuan memahami informasi kalimat, paragraf, dan seluruh isi bacaan. Oleh sebab itu, tingkat, dan bobot kemampuan membaca tidak sama pada setiap orang. Jadi kemampuan membaca bersifat individual.
Kemampuan memahami informasi kalimat dalam bacaan, yaitu berupa gambaran daya ingat murid setelah membaca teks bacaan. Oleh karena itu titik beratnya pada daya murid, instrumennya disusun sesuai dengan tujuan tersebut, yaitu berupa pemahaman terhadap informasi kalimat-kalimat yang terdapat dalam bacaan tersebut.
Kemampuan memahami informasi seluruh isi bacaan merupakan gambaran daya nalar murid setelah membaca teks bacaan. Oleh karena itu beratnya beratnya daya pada nalar murid, maka instrumennya disusun berdasarkan tujuan tersebut, yaitu berupa pemahaman terhadap informasi seluruh isi bacaan yang dibacanya. Mengingat bahwa bacaan terdiri atas beberapa paragraf yang merupakan kesatuan dan setiap paragraf terdiri atas beberapa kalimat yang juga merupakan suatu kesatuan, maka dengan menghubungkan informasi antar kalimat dalam paragraf dan antar paragraf dalam bacaan diharapkan dapat menggambarkan daya nalar murid.
Membaca termasuk salah satu tuntutan dalam kehidupan masyarakat modern. Dengan membaca teks dapat mengetahui dan menguasai berbagai hal. Banyak orang membaca kata demi kata, bahkan mengucapkannya secara cermat, dengan maksud dapat memahami isi bacaannya. Membaca kata demi kata memang bermanfaat, tetapi tidak cocok untuk semua tujuan.
Kecepatan membaca berbeda bagi setiap orang, bergantung jenjang usianya. Menurut Dendy Sugono (2003:143) kecepatan membaca bagi orang dewasa antara 900-1000 kata permenit, bagi siswa sekolah dasar kelas I : 60 – 80 kata, kelas 2 : 90 – 110 kata, kelas 3 : 120 – 140 kata, kelas 4 : 150 – 160 kata, kelas 5 : 170 – 180 kata, dan kelas 5 : 190 – 250 kata per menit. Sedangkan bagi siswa tingkat sekolah menengah pertama kelas I : 250 – 270 kata, kelas 2 : 280 – 340 kata, kelas 3 : 350 – 410 kata. Kecepatan itu berlaku bagi kegiatan membaca dalam hati, yang tentu saja tidak sama kecepatannya dengan membaca nyaring.
Kecepatan membaca erat kaitannya dengan tujuan membaca, karena itu perlu di pahami tekhnik membaca cepat, membaca sepintas dan membaca cermat.
Membaca cepat biasanya dilakukan untuk menemukan suatu atau memperoleh kesan umum dari suatu bacaan. Kalau pembaca ingin memahami, misalnya isi bagian – bagian buku, ia cukup memperhatikan judul atau bagian atas saja.
Membaca sepintas dipergunakan apabila seseorang ingin secara cepat menemukan misalnya tanggal, nama, no telepon, tempat pertemuan, indeks, atau jumlah halaman buku. Orang terbiasa membaca sepintas, ia akan dapat secara cepat menemukan gagasan yang tertuang dalam buku yang dibacanya.
Membaca cermat dilakukan orang untuk memperoleh pemahaman sepenuhnya terhadap isi bacaan atau buku yang dibacanya. Dengan membaca cermat, seseorang akan dapat mengingat dan memahami ide pengarang, karakter tokoh ( dalam bacaan fiksi ), konsep – konsep khusus, hubungan antar bagian, atau gaya penulisan.
Dalam beberapa hal, membaca bacaan atau buku atas kehendak sendiri adalah menyangkut motivasi membaca. Motivasi membaca itupun ada sangkut pautnya dengan motivasi belajar inilah yang menjadi tujuan dan sekaligus memupuk motivasi membaca di kalangan anak – anak sekolah. Motivasi membaca dan motivasi belajar secara bersama diikutkan dalam usaha untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih banyak dari apa yang mereka peroleh di kelas ( Sukardi, 1988:105 ).
Sesuatu yang berkaitan erat dengan motivasi membaca adalah kegemaran membaca. Kegemaran membaca, tidak tumbuh dengan sendirinya, peranan sekolah dalam menumbuhkan kegemaran membaca sangat penting ( Burhan, 1971:130 ). Dengan demikian para guru hendaknya dapat menyadarkan dan menumbuhkan motivasi membaca.
Motivasi membaca ini lebih berharga daripada kebiasaan membaca, sebab bila hanya kebiasaan, tanpa adanya motivasi maka membaca itu akan sia – sia. Hal ini terbukti banyak orang yang tertarik untuk membaca buku walaupun pada mulanya tidak mempunyai kebiasaan membaca.
Dalam membaca jelas sekali kita lihat perbedaan antara membaca yang penuh dengan motivasi dan membaca karena keharusan atau kewajiban. Perbedaan yang nampak adalah pada umumnya kalau penuh motivasi, dikerjakan sungguh – sungguh dan penuh harapan, sedangkan membaca atas kewajiban seolah – olah ada unsur paksaan. Atas dasar inilah perlu kiranya motivasi membaca itu ditumbuhkan dan terus dipupuk di kalangan anak kita ( Sukardi, 1986:106).
Kurangnya motivasi membaca banyak sebab, salah satu sebab yang utama adalah karena anak tidak mempunyai teman yang mempunyai motivasi yang sama. Disamping itu juga dipengaruhi oleh keadaan diri orang itu sendiri. Karena itu motivasi perlu dikembangkan sejak dini.
Cara menumbuhkan motivasi membaca dengan cara orang tua maupun guru harus dapat berfungsi sebagai modal bagi anak didik. Disamping itu sekolah mendapat tugas penting dalam memberi motivasi membaca. Namun kenyataannya sekolah sebagai tempat terbaik bagi pembinaan motivasi membaca belum berfungsi dengan baik.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, hendaknya orang tua dapat mengusahakan suatu lingkungan yang kaya akan rangsangan mental dan suatu suasana dimana anak mereka tertarik, tergantung untuk mewujudkan bakat-bakat dan kreativitasnya.
Motivasi merupakan suatu proses yang mengarah pada pencapaian suatu tujuan, motivasi adalah konstruksi yang mengaktifkan dan mengarahkan perilaku dengan cara memberi dorongan atau daya organisme, sehingga terjadi perilaku. Petri (1988:23) berkeyakinan bahwa perilaku selain refleks-refleks tidak akan terjadi tanpa adanya motivasi yang juga disebutnya dengan istilah drive. Motivasi merupakan suatu konstruksi dengan tiga karakteristik yaitu intensitas dan arah pada individu melakukan sesuatu secara terus menerus. Petri (1988:24) menyatakan bahwa motivasi merupakan suatu istilah untuk menyatakan identitas atau suatu perilaku. Artinya identitas atau perilaku tergantung pada besar kecilnya motivasi yang ada.
Berdasarkan pada pendapat-pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bawa motivasi merupakan suatu kondisi yang menimbulkan dan mengaktifkanperilaku, yaitu dengan cara meningkatkan intensitas dan mengarahkan perilaku. Dengan demikian perilaku terjadi secara persistem dan mengarah pada tujuan tertentu. Jadi adanya motivasi merupakan indikator kesungguhan dan kontinuitas perilaku yang mengarah pada objek tertentu.

Pembelajaran Bahasa Jawa
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan persaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa jawa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa jawa dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia jawa.
Standar kompetensi mata pelajaran bahasa jawa merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, ketrampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa Jawa. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.
Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Jawa ini diharapkan ( dalam perment 22-23 tahun 2006 ) :
a.    Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
b.    Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber baelajar;
c.    Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
d.    Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah
e.    Sekolah daapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan da kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
f.    Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.
Mata pelajaran Bahasa Jawa bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut ( Depdiknas, 22-23 tahun 2006 ). 
a.    Berkomunikasi secara efektif dan efesian sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
b.    Menghargai dan bangga menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
c.    Memahami bahasa jawa dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
d.    Menggunakan bahasa jawa untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
e.    Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
f.    Menghargai dan membanggakan sastra jawa sebagai khazanah budaya dan intelektual orang jawa.
Ruang lingkup mata pelajaran bahasa jawa mencakup komponen kemampuan berbahasa san kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
a.    Mendengarkan
b.    Berbicara
c.    Membaca
d.    Menulis

Metode dan Model Pembelajaran.
Pengertian Metode Mengajar
Seseorang tenaga pengajar yang ingin berhasil menjalankan tugas dituntut memiliki kemampuan profesional, personal, dan sosial yang terintegrasi. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberbahasaan guru untuk mencapai tingkat prestasi belajar siswa yang tinggi adalah menggunakan metode mengajar inovatif.
Metodologi berasal dari bahasa latin” meta’’ dan “ hodos “ meta artinya jauh ( melampaui ), hodos artinya jalan ( cara ). Metodologi adalah ilmu mengenai cara-cara mencapai tujuan. Sehingga kalau dikaitkan dengan proses belajar mengajar, maka pengertian metode dalam hal ini adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai.
Macam-macam Metode Mengajar
Agar tujuan pengajaran tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh pendidik, maka perlu diketahui beberapa metode mengajar pada saat mengajar, diantaranya :
Metode Ceramah ( Preaching Method )
Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Metode ceramah dapat dikatan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.


Metode Diskusi ( Discussion method )
Metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah ( problim solving ). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok ( group discussion ) dan resitasi bersama ( socialized recitation ).
Metode Demontrasi ( Demontration method )
Metode demontrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui pengguna mediapengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.
Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu secara proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran.
Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi adalah :
Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan
 Proses belajar siswa lebig terarah pada materi yang sedang di pelajari
Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembel;ajaran lebih melekat dalam diri siswa

Metode Ceramah Plus
Metode ceramah plus adalah metode mengajar yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah gabung dengan metode lainnya. Metode ceramah plus yaitu :
Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas ( CPTT ).
Metode ceramah plus diskusi dan tugas ( CPDT )
Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan ( CPDL )
Metode resitasi ( Recitation method )
Metode resitasi adalah suatu metode mengajar dimana siswa diharuskan membuar resume dengan kalimat sendiri.
Metode percobaan ( Experimental method )
Metode percobaan adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk doilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Metode percobaan adalah suatu metode mengajar yang menggunakan tertentu dan dilakukan lebig dari satu kali. Misalnya di Laboratorium.
Metode karya wisata ( sutdy tour method )
Metode karya wisata adalah metode mengajar yang di rancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan diskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik. Yang kemudian dibukukan.
Metode Latihan Keterampilan ( Drill method )
Metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar, dimana siswa diajak ke tempat latihan keterampilan untuk melihat bagaimana cara membuat sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk apa dibuat, apa manfaatnya dan sebagainya. Contoh latihan keterampilan membuat tas dari mute/pernik-pernik.
Model pengajaran
Istilah model mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur. Model pengajaran mencakup suatu pendekatan yang lebih luas dan menyeluruh. Istilah model mempunyai empat ciri khusus, yaitu :
1)    Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para penciptanya
2)    Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar ( tujuan pembelajaran yang akan dicapai )
3)    Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil
4)    Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan itu dapat tercapai
Sehingga model pengajaran dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting, apakah yang dibicarakan adalah tentang mengajar di kelas atau praktik mengawasi anak-anak.
Pada umumnya berbagai model pembelajaran komponennya sama, yaitu semua pembelajaran di awali dengan menarik perhatian siswa dan diakhiri dengan tahap menutup pelajaran. Namun kita sebagai guru perlu mengetahui bahwa ada pebedaan yang berlangsung di antara awal dan akhir pembelajaran agar model pembelajaran yang kita gunakan dapat terlaksana dengan baik. Kita sebagai guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai model pembelajaran, sehingga dapat memilih model yang baik untuk mencapai tujuan tertentu atau sesuai dengan lingkungan belajar atau kelompok siswa tertentu. Salah satu model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran kooperatif ( Cooperative Learning / CL ).

Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning / CL)
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling asah, saling asuh, saling asih antara sesama siswa sebagai latihan hidup dalam masyarkat nyata.
Unsur – unsur pembelajaran kooperatf meliputi :
Saling ketergantungan positif
Interaksi tatap muka
Akuntabilitas individual
Ketrampilan menjalin hubungan antar pribadi
Model pembelajaran kooperatif ( Cooperative Learning / CL ) merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil dengan beranggotakan siswa-siswa yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Setiap anggota kelompok saling bekerja sama dalam mengerjakan tugas. Belajar dikatakan belum selesai jika ada anggota kelompok yang belum menguasai bahan pembelajaran. Model pembelajaran ini sesuai dengan prinsip-prinsip learning community ( masyarkat belajar ).
Atas dasar hal tersebut di atas bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami materi pelajaran materi pelajaran yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan materi pelajaran-materi pelajaran itu dengan teman-temannya. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel ! di bawah yang menunjukkan perbedaan antara kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar tradisional dan tabel 2 yang menunjukkan perbedaan peran guru dalam pembelajaran kooperatif dengan kelompok belajar tradisional.




Tabel 1
Perbedaan kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar tradisional

Kelompok pembelajaran kooperatif    Kelompok pembelajaran tradisional      
·1    Kepimpinan bersama     ·1    Satu kepemimpinan       
·2    Saling ketergantungan positif     ·2    Tidak ada saling ketergantungan      
·3    Keanggotaan heterogen     ·3    Keanggotaan homogen       
·4    Menekankan pada tugas dan hubungan kooperatif     ·5    Hanya menekankan pada tugas       
·6    Tanggung jawab terhadap hasil belajar seluruh anggota kelompok    ·7    Tanggung jawab terhadap hasil belajar sendiri       
·8    Suatu hasil kelompok     ·9    Suatu hasil individu    


Tabel 2
Perbadaan peran guru dalam pembelajaran kooperatif dengan kelompok belajar tradisional.

Pembelajaran kooperatif    Pembelajaran tradisional      
·1    Menunjang     ·1    Mengarahkan       
·2    Mengarahkan kembali pertanyaan     ·2    Menjawab pertanyaan       
·3    Ketrampilan sosial guru     ·3    Membuat aturan       
·4    Menumbuhkan suasana saling membutuhkan     ·5    Menganjurkan kebebasan atau berdiri sendiri       
·6    Mengembangkan perbedaan pendapat    ·7    Bertindak sebagai nara sumber utama       
·8    Membantu siswa mengevaluasi kerja kelompok     ·9    Mengevaluasi individu    


Kerangka Pikir Penelitian
Kemampuan membaca adalah hasil proses belajar dan pembentukan kebiasaan yang terus menerus. Menurut Uria Bait ( 1987:11 ) membaca adalah sebagai jenis kemampuan yang gejalanya dapat dihayati berupa (1) kemampuan menguasai bahasa tulis yang mewadahi gagasan dalam bacaan, (2) kemampuan mengidentifikasi masalah dan memahami gagasan dalam bacaan, dan (3) kemampuan memahami sikap penulis terhadap masalah yang di tulisnyA dan terhadap pembacanya.
Ketrampilan membaca yang di maksudkan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah membaca komprehensif. Oleh karena itu, gejalanya dapat dilihat pada kemampuan memahami informasi kalimat, paragraf, dan seluruh isi bacaan. Oleh sebab itu, tingkat dan bobot kemampuan membaca tidak sama pada setiap orang. Jadi kemampuan membaca bersifat individual.
Kemampuan memahami informasi kalimat dalam bacaan, yaitu berupa gambaran daya ingat murid setelah membaca teks bacaan. Oleh karena itu titik beratnya pada daya ingat murid, instrumennya disusun sesuai dengan tujuan tersebut, yitu berupa pemahaman terhadap informasi kelimat-kalimat yang terdapat dalam bacaan tersebut.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling asah, saling asuh, saling asih antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata.
Model pembelajaran kooperatif ( Cooperative Learning / CL ) merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil dengan beranggotakan siswa-siswa yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Setiap anggota kelompok saling bekerja sama dalam mengerjakan tugas. Belajar dikatakan belum selesai jika ada anggota kelompok yang belum menguasai bahan pembelajaran. Model pembelajaran ini sesuai dengan prinsip-prinsip learning community ( masyarkat belajar ).
Bertitik tolak dari uraian di atas maka ketrampilan membaca diharapkan dapat ditingkatkan dengan model pembelajaran kooperatif.

Hipotensi Tindakan
Sesuai dengan permasalah dalam kajian puataka, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut : ada peningkatan ketrampilan membaca dengan mengaplikasikan konsep pembelajaran Cooperative Learning siswa kelas VIIIA SMPN 2 Purwantoro Wonogiri tahun Pelajaran 2012/2013.

BAB III
METODE PENELITIAN

Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 2 Purwantoro Wonogiri yang berlokasi di Kecamatan Purwantoro Wonogiri arah timur dari Kota Kabupaten.
Kelas yang diteliti adalah kelas VIIIA, pada mata pelajaran Bahasa Jawa semester 1 tahun Pelajran 2012/2013. Sedangkan jumlah siswa yang menjadi subjek penelitian berjumlah 32 orang siswa. Subjek penelitian adalah guru mata pelajaran pada waktu kegiatan belajar mengajar bahasa jawa.
Dalam penelitian tindakan kelas ini yang menjadi objek penelitian adalah motivasi dan kemampuan membaca siswa kelas VIIIA SMPN 2 Purwantoro Wonogiri, yang meliputi :
Presentasi kehadiran siswa selama mengikuti kegiatan
Keaktifan dan partisipasi siswa dalam kelompok
Ketertarikan siswa selama mengikuti pembelajaran bahasa jawa
Ketrampilan membaca siswa

Desain Penelitian
Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian tindakan kelas,. Ciri-ciri penelitian kualitatif, yaitu :
Mempunyai latar alami sebagai sumber data langsung yakni situasi kelas yang bersifat wajar sebagaimana adanya tanpa dimanipulasi.
Bersifat deskriptif.
Lebih mementingkan segi proses dari pada hasil karena hal-hal yang akan diamati akan terlihat lebih jelas dalam proses belajar mengajardengan pembelajaran kooperatif.
Analisis cenderung secara induktif, data yang terkumpul diolah secara mendalam.
Makna merupakan hal esensial, karena perhatian peneliti terpusat pada kegiatan siswa.
Peneliti sebagai instrumen atau alat pengumpul data. Penelitian tindakan bertujuan untuk memperbaiki praktek pembelajaran di kelas yang memberikan suatu peningkatan dalam hal motivasi belajar siswa.
Dalam penelitian umum, peneliti berkolaborasi dengan guru, pengamat, dan peneliti sendiri. Peneliti terlibat langsung dalam proses penelitian dari awal hingga berakhirnya penelitian. Peneliti berusaha melihat, mengamati, merasakan, menghayati, merefleksi, dan mengevaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Jenis penelitian mengacu pada tempat atau konteks dimana penelitian dilangsungkan. Oleh karena itu penelitian dilakukan di dalam konteks kelas dan ditujukan untuk memperbaiki praktek pembelajaran di kelas, maka penelitian ini disebut penelitian tindakan kelas. Sukanaryana (1999;2 dalam Kusumawati, 2001:21-22) menyebutkan karateristik dari penelitian tindakan kelasantara lain:
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan langsung oleh guru atau praktisi pendidikan yang lain, yang berarti dilaksanakan langsung oleh orang-orang yang paling tahu permasalahan yang dihadapi langsung dalam pembelajaran.
Penelitian tindakan kelas diangkat dari permasalahan aktual yang dihadapi guru atau praktisi pendidikan dalam menjalankan tugasnya.
Penelitian tindakan kelas mengandung tindakan yang berarti penelitian tindakan kelas tetap merupakan upaya perbaikan dan mempunyai tujuan utama untuk melakukan perbaikan praktek-praktek pembelajaran dan diharapkan menghasilkan alternatif-alternatif baru untuk melaksanakan proses pendidikan atau pembelajaran.
Penelitian tindakan kelas bersifat kolaboratif yang berarti antara peneliti dari luar dan guru terjadi hubungan kesejawatan yang bermanfaat bagi kedua belah pihak

Siklus Penelitian
Tahap-tahap pelaksanaan penelitian tindakan kelas terdiri dari tiga siklus yang meliputi : perencanaan, pemberian tindakan, observasi, analisis dan refleksi. Adapun alur tahap pelaksanaan tindakan dalam penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut :





















Gambar 1. Gambar siklus penelitian tindakan kelas
( sumber: Kemmis dan taggart dalam Hartatiek,2002:5)
Refleksi awal dilaksanakan dengan melakukan pengamatan dan diskusi tentang pelaksanaan proses pembelajaran kooperatif. Hasil analisis refleksi awal digenakan untuk menetapkan dan merumuskan rencana tindakan selanjutnya untuk menyusun strategi pembelajaran.
Selanjutnya refleksi atau pemaknaan terhadap perilaku siswa tersebut berdasarkan hasil refleksi dapat disimpulkan bahwa siswa kurang termotivasi dalam mengikuti proses belajar mengajar.
Siklus I
Rencana Tindakan I
Rencana tindakan I adalah :
Pembuatan skenario pembelajaran dan latihan kerja siswa
Menentukan aspek-aspek keterampilan membaca dan keterampilan proses yang akan diamati
Mempersiapkan perangkat dan bahan yang akan diperlukan dalam pelaksanaan tidakan
Mempersiapkan lembar pengamatan dan perekaman data beserta cara melaksanakannya
Mempersiapkan soal tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan membaca siswa
Pelaksanaan Tindakan I
Berdasarkan rencana tindakan I yang telah tersusun, maka pelaksanaan tindakan I adalah sebagai berikut
Sebelum melakukan tindakan, siswa mengerjakan tes yang bertujuan untuk mengukur ketrampilan membaca mereka
Guru menjelaskan materi yang skenarionya diset dalam pembelajaran kooperatif
Selama siklus I, siswa melakukan kegiatan antara lain : membaca, diskusi, dan mengerjakan latihan kerja siswa
Selama proses pembelajaran, dilakukan pengamatan oleh peneliti yang dapat menghasilkan pemantauan yang berupa rekaman kegiatan
Observasi I
Observasi dilakukan sambil melaksanakan tindakan I. Observasi bertujuan untuk :
Mengetahui peningkatan kemampuan ketrampilan proses di lakukan pemberian tes setelah tindakan pada siklus ini
Mengetahui perkembangan kemampuan efektif dilakukan pemantauan melelui lembar observasi
Mengetahui jalannya proses pembelajaran dilakukan pemantauan yang berupa jalan tindakan
Refleksi I
Mendeskripsikan data-data yang di peroleh
Diskusi tentang jalannya tindakan, ketrampilan membaca, kemampuan membaca, dan data-data
Hasil refleksi digunakan untuk menyusun rencana berikutnya
Siklus II
a.    Rencana Tindakan II
Rencana tindakan II adalah :
Pembuatan skenario pembelajaran dan latihan kerja siswa
Menentukan aspek-aspek ketrampilan membaca dan ketrampilan proses yang akan di amati
Mempersiapkan perangkat dan bahan yang diperlukan dalam pelaksanaan tindakan
Mempersiapkan lembar pengamatan dan perekaman data beserta cara melaksanakannya
Mempersiapkan sola tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan membaca siswa
b.    Pelaksanaan Tindakan II
Pelaksanaan tindakan II berdasarkan rencana tindakan II adalah sebagai berikut :
Sebelum melakukan tindakan, siswa mengerjakan tes yang bertujuan untuk mengukur kemampuan membaca mereka
Guru menjelaskan materi yang skenarionya diset dalam pembelajaran kooperatif
Selama siklus II, siswa melakukan kegiatan antara lain : membaca, diskusi, dan mengerjakan latihan siswa
Selama proses pembelajaran, dilakukan pengamatan oleh peneliti yang dapat menghasilakan pemantauan yang berupa rekaman kegiatan
c.    Observasi II
Sambil melaksanakan tindakan, juga dilakukan tindakan observasi. Tujuan observasi untuk :
Mengetahui peningkatan kemampuan membaca dilakukan pemberian tes setelah tindakan pada siklus ini
Mengetahui perkembangan kemampuan membaca dilakukan pemantauan melalaui lembar observasi
Mengetahui jalannya proses pembelajaran dilakukan pemantauan yang berupa jalannya tindakan
d.    Refleksi II
Mendeskripsiakn data-data yang diperoleh
Diskusi tentang jalannya tindakan, ketrampilan membaca, kemampuan membaca dan data –data
Hasil refleksi digunakan untuk menyusun rencana berikutnya
Siklus III
a.    Rencana tindakan III
Rencana tindakan III adalah :
Pembuatan skenario pembelajaran daln latihan kerja siswa
Menentukan aspek-aspek ketrampilan membaca dan ketrampilan proses yyang akan diamati
Mempersiapkan perangkat dan bahan yang diperlukan dalam pelaksanaan tindakan
Mempersiapkan lembar pengamat dan perekaman data beserta cara melaksanakannya
Mempersiapkan soal tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan membaca siswa
b.    Pelaksanaan tindakan III
Pelaksanan tindakan III berdasarkan rencana tindakan III adalah sebagai berikut :
Sebelum melakukan tindakan, siswa mengerjakan tes yang bertujuan untuk mengukur kemampuan membaca setelah pelaksanaan II.
Guru menjelaskan materi yang skenarionya diset dalam pembelajaran kooperatif
Selama siklus III, siswa melakukan kegiatan antara lain :  membaca, diskusi dan mengerjakan latiahan kerja siswa
Selama proses pembelajaran, dilakukan pengamatan oleh peneliti yang dapat menghasilkan pemantauan yang berupa rekaman kegiatan.
c.    Observasi III
Sambil melaksanakan tindakan, juga dilakukan tindakan observasi. Tujuan observasi adalah untuk :
Mengetahui peningkatan kemampuan membaca dilakukan pemberian tes setelah tindakan pada siklus ini
Mengetahui perkembangan kemampuan membaca dilakukan pemantauan melalaui lembar observasi
Mengetahui jalannya proses pembelajaran dilakukan pemantauan yang berupa jalannya tindakan
d.    Refleksi III
Mendeskripsiakn data-data yang diperoleh
Diskusi tentang jalannya tindakan, ketrampilan membaca, kemampuan membaca dan data –data
Hasil refleksi digunakan untuk menyusun rencana berikutnya

Teknik Pengumpulan Data
Tahap pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini peneliti berusaha mengumpulkan data yang bersangkutan langsung dengan pokok permasalahan yang diteliti adalah data primer ( data – dat yang di peroleh dan dikumpulkan secara langsung dari responden ). Adapun teknik pengumpulan data yang di pergunakan adalah dengan menggunakan metode survei.
Informasi yang diperoleh meliputi jawaban-jawaban dari responden dari serentetan pertanyaan yang tersusun dalam suatu daftar ( kuesioner ) dan hasil survei peneliti dalam pelaksanaan PTK.
Instrumen penelitian yang digunakan untuk menjaring data peneliti ini adalah notulen/catatan observasi dan tes ketrampilan membaca. Notulen atau catatan observasi digunakan untuk mencatat kerja sama siswa dalam diskusi dan partisipasi siswa tentang suasana pembelajaran dengan model kooperatif.
Hasil penelitian angket tiap siklus dimasukkan ke dalam tabel sebagai berikut :

No angket    SS    S    RG    TS    Jumlah      
1                          
2                          
3                          
4                          
Dst                          
Jumlah                          
Presentase                       

Keterangan
SS : Sangat Setuju             RG: Ragu – ragu
S   : Setuju                 TS  : Tidak Setuju

Selanjutnya untuk mengetahui perbandingan tiap siklus digunakan tabel sebagai berikut :

No angket    SS    S    RG    TS    Jumlah      
1                          
2                          
3                          
4                          
5                       




Analisis Data
Data yang di peroleh akan dianalisis dengan statistik deskriptif  secara rata-rata dan persentase yaitu dengan menginventarisasi dan memadukan seluruh informasi yang diperoleh tiap siklus. Data yang diperoleh berdasarkan :
Hasil observasi keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung
Hasil lembar pendapat dan tanggapan yang ditulis siswa
Kemampuan ketrampilan membaca
Untuk merefleksi tindakan peneliti agar dapat diperbaiki pada siklus berikutnya dilakukan dengan menganalisa hasil observasi kolaborator terhadap pelaksanaan PTK. Selanjutnya hasil peneliti perolehan hasil belajar tiap siklus di masukkan kedalam tabel sebagai berikut :
Tabel Data Hasil Belajar  Membaca
SIKLUS I                    SKM = 65

No    Nama    Nilai    Keterangan      
1                  
2                  
Dst                  
Jumlah              
Rata-rata           



Untuk menentukan mean ( nilai rata-rata ) dicari dengan membagi jumlah nilai siswa dengan jumlah siswa atau dengan rumus :

M =

Keterangan :
M         : mean ( nilai rata-rata )
SFX    : jumlah nilai siswa
N        : jumlah siswa     ( Suharsimi, 1991:269)

BAB IV
HASIL PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (ClassroomAction Reaserch) yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi guru di dalam kelas yang selama ini proses pembelajaran yang di gunakan sebagai besar dengan metode ceramah dan tanya jawab. Hal ini menyebabkan keaktifan siswa sangat kurang dan sangat membosankan. Lebih parahnya hal ini terjadi juga pada pembelajaran bahasa jawa, dimana ketrampilan membaca dan menulis merupakan salah satu aspwk yang harus di perhatikan. Seperti telah dipaparkan didepan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang di lihat dari aktivitasnya selama kegiatan belajar mengajar yang menerapkan metode otentik sebagai penilai, serta respon siswa terhadap pembelajaran yang diikuti.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan untuk meningkatkan ketrampilan membaca siswa. Proses pelaksanaan tindakan kelas melaui tiga tahap secara berdaur ulang ( dalam tiga siklus ) mulai dari (1) persiapan, (2) pelaksanaan, (3) penyusunan laporan.

Deskripsi Data
Dalam bab ini dideskripsikan data yang diperoleh peneliti dalam kegiatan pada siklus I,II, dan III dari evaluasi melalui tes dan non tes (observasi) tentang peningkatan ketrampilan membaca melalui model pembelajarankooperatif siswa kelas VIIIA SMPN 2 Purwantoro Wonogiri,. Adapun deskripsi data dalam penelitian ini disajikan sebagai berikut :
1.    Siklus Pertama
Berlangsung selama 4 jam efektif

Materi Pokok
Rencana Tindakan




Pelaksanaan
























Pengamatan

Refleksi    :
:




:
























:

:    Membaca cepat
Dengan menggunakn artikel siswa         membaca dengan kecepatan 100 kata permenit dengan memahami isinya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif.
Membaca cepat
Ø1    Siswa membaca artikel yang berjudul “ gegeran kolam brantas durung tuntas” dan menjawab pertanyaan bacaan
Ø2    Siswa membentuk kelompok
Ø3    Siswa menandai kata – kata yang dianggap sulit
Ø4    Setiap kelompok menandai dan menentukan poko-pokokm masalah dalam artikel yang di baca
Ø5    Setiap kelompok melaporkan hasil pekerjaannya dan kelompok lain menanggapi pekerjaan kelompok lain
Ø6    Guru dan siswa mengoreksi hasil pekerjaan
Ø7    Membaca ulang pokok-poko permasalahan dalam artikel yang dibaca
Ø8    Memberi tugas untuk mempelajari pokok-pokok masalah dalam artikel “Gegeran kolam brantas durung tuntas”
Ø9    Memberi komentar atas kegiatan yang telah berlangsung
Kolaborasi dengan sesama tim terhadap pelaksanaan KBM
·1    Menyimpulkan hasil observasi siklus pertama
·2    Perencanaan terhadap rencana tindakan siklus kedua
   
Dalam pembelajaran siklus pertama, pembelajaran dengan model kooperatif sudah teridentifikasi cukup baik. Pembelajaran sudah berorentasi pada aktivitas siswa. Aktivitas siswa tersebut diawali dengan membaca dengan pemahaman dan guru membimbing siswa diskusi kelompok dalam belajar tentang pemahaman suatu bacaan dengan cara melakukan membaca dengan kecepatan 100 kata per menit serta memahami isinya.
Pada tahap pengenalan konsep, pembelajaran dilakukan dengan metode diskusi kelas, guru mengembangkan hasil diskusi untuk memperkuat pemahaman konsep.
Dalam tahap penerapan konsep, siswa kurang menerapkan konsep yang dipelajari dalam situasi baru, misalnya dalam kehidupan sehari-hari tentang kegiatan sosial.
Ada dua hal penting yang dapat direfleksikan dari hasil penelitian siklus paertama, yaitu :
Penerapan konsep perlu diperbaiki
Siswa masih belum percaya diri dan serius dalam memotong/Chunking membaca cepat
Selanjutnya kedua hal tersebut akan menjadi fokus masalah pada pembelajaran siklus kedua.
2.    Siklus Kedua
Berlangsung selama 4 jam efektif

Materi Pokok
Rencana Tindakan



Pelaksanaan





























Pengamatan

Refleksi    :
:



:





























:

:    Membaca pemahaman
Dengan menggunakan artikel siswa membaca dengan memahami isinya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
Membaca Pemahaman
Ø1    Salah seorang membaca artikel yang berjudul “gegeran kolam brantas durung tuntas”
Ø2    Penegasan tentang kegiatan yang akan dilakukan berupa komentar mengenai masalah yang terdapat dalam artikel berdasarkan pokok-pokok masalah yang telah di temukan.
Ø3    Siswa membentuk kelompok sesuai tugas pertemuan selanjutnya.
Ø4    Mendiskusikan komentar terhadap pokok-pokok masalah.
Ø5    Setiap kelompok tampil memberikan komentar mengenai masalah yang terdapat dalam artikel secara lisan di depan kelas.
Ø6    Kelompok lain menyimak dan mengamati, dan membuat catatan komentar.
Ø7    Mendiskusikan hasil komentar mengenai pokok-pokok masalah.
Ø8    Menyimpulkan dan mencatat sebagai rangkuman.
Ø9    Guru memberikan tanggapan secara klasikal terhadap komentar siswa, memberikan pujian dan memberi tugas sebagai PR untuk mencari artikel persoalan faktual.
Kolaborasi dengan sesama tim terhadap pelaksanaan KBM.
·10    Menyimpulkan hasil observasi siklus kedua.
·11    Perencanaan terhadap rencana tindakan siklus ketiga.   

Dalam pembelajaran siklus kedua, pembelajaraan dengan model kooperatif sudah teridentifikasi dengan baik. Pembelajaran sudah berorientasi pada aktivitas siswa. Aktivitas siswa tersebut diawali dengan membaca dengan pemahaman dan guru membimbing siswa diskusi kelomok dalam belajar tentang pemehaman suatu bacaan dengan cara melakukan membaca dengan kecepatan 100 kata per menit serta memahami isinya.
Siswa mengkomunikasikan hasil penelitian antara lain : mengaitkan bacaan yang ada dengan peralatan atau kata-kata yang mudah diterima dalam kehidupan sehari-hari, menyusun sesuai dengan urutan waktu kejadian.
Pada tahap pengenalan konsep, pembelajaran dilakukan dengan metode diskusi kelas, guru mengembangkanb hasil diskusi untuk memperkuat pemahaman konsep. Selanjutnya hasil penelitian dilakukan tahab-tahab sebagai berikut :
Tahap eksplorasi pembelajaran berorientasi pada aktivitas siswa berupa membaca dengan pemahaman. Metode yang digunakan adalah diskusi dan latihan.
Tahap penerapan konsep siswa diberi pengalaman belajar membaca buku-buku tentang pelajaran.
Setelah itu siswa berdiskusi dengan menggunakan buku dan LKS. Kegiatan ini siswa antusias untuk mengerjakan. Pada akhir pelajaran siswa diberi tuga untuk mengembangkan masalah membaca pemahaman.
3.    Siklus Ketiga
Berlangsung selama 4 jam efektif

Materi pokok
Rencana Tindakan


Pelaksanaan

































Pengamatan

Refleksi    :
:


:

































:

:    Membaca Sekilas
Dengan menggunakan teks siswa berusaha untuk dapat membaca dan memahami isinya
Membaca Sekilas
Ø1    Siswa menjawab pertanyan guru tentang perdagangan.
Misalnya :
o1    Apa yang kamu ketahui tentang Gegeran Kolam Brantas durung tuntas ?
Ø2    Menginformasikan cara membaca sekilas.
Ø3    Menginformasikan tujuan pembelajaran.
Ø4    Guru menyuruh siswa membaca sekilas dua teks yang berjudul “Gegeran Kolam Brantas durung tuntas”.
Ø5    Siswa membaca teks terlebih dahulu.
Ø6    Siswa membentuk kelompok.
Ø7    Setiap kelompok membahas tentang :
o2    Isi secara umum yang terdapat pada masing-masing teks dengan menjawab pertanyaan bacaan.
o3    Menentukan pokok-pokok yang ditentukan dalam teks.
Ø1    Secara bergiliran, wakil dari tiap kelompok melaporkan hasil pekerjaannya.
Ø2    Kelompok lain memberikan tanggapan.
Ø3    Siswa merangkum isi secara umum dan aspek/unsur yang digunakan.
Ø4    Di akhir kegiatan guru mengungkap ulang proses pembelajaran yang sudah berlangsung dengan pertanyaan-pertanyaan.
Kolaborasi dengan sesama tim terhadap pelaksanaan KBM.
·1    Menyimpulkan hasil observasi siklus ketiga.
·2    Perencanaan terhadap rencana siklus ketiga.   
Dalam pembelajaran siklus ketiga, pembelajaran dengan pembelajaran model kooperatif sudah teridentifikasi amat baik. Pembelajaran sudah berorientasi pada aktivitas siswa. Aktivitas siswa tersebut diawali dengan membaca dengan memahami isinya dan guru membimbing siswa diskusi kelompok dalam belajar tentang pemahaman suatu bacaan dengan cara melakukan membaca sekilas serta memahami isinya.
Siswa mengkomunikasikan hasil penelitian antara lain : mengeitkan bacaan yang ada dengan peralatan atau kata-kata yang mudah diterima dalam kehidupan sehari-hari, menyusun sesuai dengan rutan waktu kejadian.
Pada tahap pengenalan konsep, pembelajaran dilakukan dengan metode diskusi kelas, guru mengembangkan hasil diskusi untuk memperkuat pemahaman konsep. Selanjutnya hasil penelitian dilakukan tahap-tahap sebagai berikut :
Tahap eksplorasi pembelajaran berorientasi pada aktivitas siswa berupa membaca dengan memahami isinya. Metode yang digunakan adalaha diskusi dan latihan.
Tahap penerapan konsep siswa diberi pengalaman belajar membaca buku-buku tentang pelajaran.
Setelah itu siswa berdiskusi dengan menggunakan buku dan LKS. Kegiatan ini siswa antusias untuk mengerjakan. Pada akhir pelajaran siswa diberi tuga untuk mengembangkan masalah membaca.
Respon siswa terhadap pembelajaran menbaca melalui model pembelajaraan kooperatif ini sangat antusias, hal ini terbukti dari hasil tanggapan siswa setiap siklus lebih meningkat.




Pembahasan
Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran
Berdasarkan analisi data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran kooperatif dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal iniberdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
Aktivitas Guru dan siswa dalam pembelajaran kooperatif
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran membaca dengan model pembelajaran kooperatif yang paling dominan adalah bekerja sama, mendengarkan/memperhatikan pembelajaran guru dan diskusi antar siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan untuk aktivitas selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah pembelajaran kooperatif dengan baik. Hal ini terlihat dari aktifitas guru yang muncul diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan LKS/menemukan konsep dan lain-lain.
Tanggapan siswa terhadap pembelajaran kooperatif
Berdasarkan analisi angket siswa dapat diketahui bahwa tanggapan siswa termasuk positif. Ini ditunjukan dengan rata-rata jawaban siswa yang menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan pembelajaraan kooperatif. Hal ini menunjukan bahwa siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran kooperatif, sehingga siswa menjadi termotivasi untuk belajar lebih giat.jadi dapat disimpulkan bahwa dengan diterapkannya pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan keterampilan membaca belajar siswa.

Tabel 1
Hasil Penilaian Angket Siswa dalam Membaca dengan Pembelajaran Kooperatif
Siklus I

No Angket    SS    S    RG    TS    Jumlah      
1    9    11    12    0    32      
2    10    10    11    1    32      
3    6    7    16    3    32      
4    11    4    15    2    32      
5    8    6    17    1    32      
Jumlah    44    42    87    7    160      
Pesentase    27,50 %    23,75 %    44,38 %    4,38 %    100 %   
Keterangan
SS        : Sangat Setuju            RG    : Ragu-ragu
S        : Setuju                TS    : Tidak Setuju


Tabel 2
Hasil Penilaian Angket Siswa dalam Membaca dengan Pembelajaran Kooperatif
Siklus II

No Angket    SS    S    RG    TS    Jumlah      
1    15    12    5    0    32      
2    14    11    6    1    32      
3    15    11    6    0    32      
4    13    12    7    0    32      
5    9    14    8    1    32      
Jumlah    66    60    32    2    160      
Pesentase    41,25 %    37,50 %    20,00 %    1,25 %    100 %   
Keterangan
SS        : Sangat Setuju            RG    : Ragu-ragu
S        : Setuju                TS    : Tidak Setuju


Tabel 3
Hasil Penilaian Angket Siswa dalam Membaca dengan Pembelajaran Kooperatif
Siklus III

No Angket    SS    S    RG    TS    Jumlah      
1    19    13    0    0    32      
2    18    14    0    0    32      
3    15    17    0    0    32      
4    20    12    0    0    32      
5    17    15    0    0    32      
Jumlah    89    71    0    0    160      
Pesentase    55,62 %    44,38 %    0,00 %    0,00 %    100 %   

Keterangan
SS        : Sangat Setuju            RG    : Ragu-ragu
S        : Setuju                TS    : Tidak Setuju

Hasil penelitian dari proses KBM dengan model pembelajaran kooperatif dapat dilihat pada tabel 4 dibawah. Dapat disimpulkan bahwa prosentase siswa menjawab sangat setuju pada siklus I 27.50%, pada siklus II 41.25% dan pada siklus III mencapai 55.62% terhadap pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif.
   
Tabel 4
    Perbandingan Siklus I, II, dan III

Siklus    SS    S    RG    TS      
I    27.50%    23.75%    44.38%    4.38%      
II    41.25%    37.50%    20.00%    1.25%      
III    55.62%    44.38%    0.00%    0.00%   
   
Persentase penilaian observasi kinerja PTK siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5
Hasil Penilaian Angket Observasi Kinerja PTK
Siklus III

No. Angket    SS    S    TS    Jumlah      
1    14    18    0    32      
2    15    17    0    32      
3    27    5    0    32      
4    25    7    0    32      
5    29    3    0    32      
Jumlah    110    50    0    160      
Persentase    68.75%    31.25%    0.00%    100%   


Keterangan:
SS    : Sangat Senang
S    : Senang
TS    : Tidak Senang
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa pada siklus ketiga 68.75% sangat senang, 31.25% senang, dan 0% tidak senang. Paling banyak siswa menjawab sangat senang terhadap pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca dengan model kooperatif sangat disenangi siswa.

Hasil belajar siswa
Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru ( ketuntasa belajar meningkat dari siklus ke siklus ) dan pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.
Rata-rata nilai siswa persiklus pada pembelajaran dengan menggunakan strategi model pembelajaran kooperatif. Pada siklus I nilai rata-rata adalah 62.97 pada siklus II 71.88 dan pada siklus III 82.03. dari hasil penilaian rata-rata siswa mempunyai nilai yang baik dan menggembirakan. Sedangkan pengamatan pengelolaan kegiatan belajar mengajar sudah baik sekali, karena Guru sudah menyiapkan semua perangkat yang akan disampaikan dalam proses KBM.
Dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan keterampilan membaca melalui model pembelajaran kooperatif siswa kelas VIIIA SMPN 2 Purwantoro Wonogiri.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dengan memperhatikan hasil pada penelitian tindakan kelas ini serta mengacu pada rumusan masalah maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif yang dilakukan di SMPN 2 Purwantoro Wongiri sebagai berikut:
Penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaraan kooperatif dapat meningkatkan keterampilan membaca siswa SMPN 2 Purwantoro Wonogiri. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai yang didapat pada tes pada siklus I sebesar 62.97. kemudian dibandingkan dengan hasil tes pada siklus II yang rata-ratanya sebesar 71.88, maka terjadi peningkatan rata-rata sebesat 8.76 %. sedangkan rata-rata nilai pada siklus II sebesar 71.88 dibandingkan dengan hasil pada tes siklus III yang rata-ratanya sebesar 82.03, ini pun terjadi peningkatan rata-rata sebesar 8.76 %. dengan demikian dapat dikatakan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran membaca. Dengan demikian bahwa keterampilan membaca siswa SMPN 2 Purwantoro Wonogiri dapat ditingkatkan dengan menggunakan model pebelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan minat siswa SMPN 2 Purwantoro Wonogiri dalam pembelajaran membaca. Hal ini dapat dilihat dari hasil angket siswa menunjukkan peningkatan tiap-tiap siklusnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Peningkatan dari Siklus I, II, dan III

Siklus    SS    S    RG    TS      
I    27.50%    23.75%    44.38%    4.38%      
II    41.25%    37.50%    20.00%    1.25%      
III    55.62%    44.38%    0.00%    0.00%   


Saran-saran
Berdasarkan kesimpulan yag telah dikemukakan diatas, berikut ini penulis sarankan bahwa Pembelajaran dengan model kooperatif dapat meningkatkan motivasi belajar Bahasa Jawa khususnya keterampilan membaca. Untuk itu perlu dketahui terlebih dahulu karakteristik dari masing-masing kompetensi dasarnya untuk menetapkan strategi belajar siswa. Selanjutnya untuk sarana yang menunjang dalam pembelajaran terutama bahan pustaka, sekolah diharapkan mampu melengkapi buku-buku perpustakaan sebagai bahan referensi siswa, dan juga sarana dan media pembelajaran yang sesuai.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1991. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:Rineka Cipta
Ardhana, Samsu. 1983. Psikologi Anak, Jakarta. PT Grasindo
Bait, Uria. 1987. Bahasa dan Informasi. Jakarta, Gramedia
Burhan.1971. Motivasi dan Keterampilan Berbahasa, Jakarta: P.T Remaja
Depdikbud. 1987.  Belajar Membaca dan Menulis, Jakarta. Depdikbud
Depdiknas, Kurikulum 2006. Sekolah Menengah Pertama, Jakarta: Depdiknas
Effendi, Aep. 2005. Bina Bahasa dan Sastra Indonesia, Jakarta: Erlangga
Hartatiek. 2002. Penelitian Tindakan Kelas : Bahan Pelatihan terintegrasi BerbasisKompetensi Guru Berbahasa Jawa. Jakarta: Depdiknas
J.J. Hasibuan, dan Moedjiono. 2006. Proses Belajar Mengajar, Bandung: P.T. RemajaRosdakarya
Kusumawati. 2001. Metode-metode Penelitian, Jakarta: Gramedia
Majid, Abdul. 2006. Perencanaan Pembelajaran, Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya
Nur, Mohammad. 2005. Pembelajaran Kooperatif,  Surabaya: Unesa
Petri, Arsian. 1988. Kemampuan Membaca, Jakarta: Balai Pustaka
Rochiati Wiriaatmaja. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: P.T. RemajaRosdakarya
Sukardi, Arifin. 1988. Motivasi Dalam Membaca, Jakarta: Balai Pustaka
Syafi’i. 1996. Penggunaan Bahasa Jawa Yang Benar, Yogyakarta: UP
Sugono, Dendy. 2003. Membaca Sebuah Keterampilan, Bandung: Angkasa
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung: Angkasa






Lampiran 1
Angket Siswa
Nama        :
No. Absen    :
Kelas        :

PILIHLAH DENGAN TANDA SILANG (X) SESUAI DENGAN APA YANG KAMU RASAKAN !

Pelajaran membaca adalah pelajaran yang menyenangkan
Sangat Setuju
Setuju
Ragu-ragu
Tidak Setuju
Pada pembahasan materi membaca cepat sebaiknya menggunakan pembelajaran kooperatif
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Ragu-ragu
d.    Tidak Setuju
Metode membaca dengan kecepatan tinggi dan membuat catatan tentang isi cerita sangat menyenangkan
e.    Sangat Setuju
f.    Setuju
g.    Ragu-ragu
h.    Tidak Setuju
Mengarang prosa adalah kegiatan yang menyenangkan
i.    Sangat Setuju
j.    Setuju
k.    Ragu-ragu
l.    Tidak Setuju
Agar mudah mengarang prosa sebaiknya didahului dengan menyusun kerangka karangan
m.    Sangat Setuju
n.    Setuju
o.    Ragu-ragu
p.    Tidak Setuju







Lampiran 2
Data Hasil Kemampuan Membaca pada Siklus I
SKM = 65

No    Nama    Nilai    Keterangan      
1    Alvian    60    Remidi      
2    Atika Sulistyowati    50    Remidi      
3    Aziz Marjuki    60    Remidi      
4    Bayu Ariyanto Arbi    75    Tuntas      
5    Danang Saputra    70    Tuntas      
6    Dela Galuh Agustin    70    Tuntas      
7    Dwi Sinta    85    Tuntas      
8    Edi Suwarno    55    Remidi      
9    Fahri Kurniawan    50    Remidi      
10    Fitri Halimah    50    Remidi      
11    Fitri Susanti    60    Remidi      
12    Fitriana    50    Remidi      
13    Iis Kurnia    50    Remidi      
14    Irvan    60    Remidi      
15    Jefri Adi Saputra    70    Tuntas      
16    Jesika Devi Dayana    50    Remidi      
17    Malik Ridwan    55    Remidi      
18    Malisa Ike Safitri    50    Remidi      
19    Martini    55    Remidi      
20    Miseh Lestari    70    Tuntas      
21    Novita Dewi Astuti    85    Tuntas      
22    Nur Irsyad Ade Novian    65    Tuntas      
23    Oky Prasetya    70    Tuntas      
24    Rama Dani    70    Tuntas      
25    Reny Wiji Asmoro    75    Tuntas      
26    Rico Febrian    80    Tuntas      
27    Rizki Hadi Permana    85    Tuntas      
28    Runtiyani    60    Remidi      
29    Samsul    65    Tuntas      
30    Tivani Noveliana Firdaus    60    Remidi      
31    Wahyu Aji Wibowo    55    Remidi      
32    Yuli Dwi Riyanti    50    Remidi      
Jumlah    2015          
Rata-Rata    62.97       
Dari tabel di atas dapat diketahui :
    Nilai Rata-rata        2015 : 32 = 62.9688
Lampiran 3
Data Hasil Kemampuan Membaca pada Siklus II
SKM = 65

No    Nama    Nilai    Keterangan      
1    Alvian    70    Tuntas      
2    Atika Sulistyowati    60    Remidi      
3    Aziz Marjuki    70    Tuntas      
4    Bayu Ariyanto Arbi    85    Tuntas      
5    Danang Saputra    80    Tuntas      
6    Dela Galuh Agustin    80    Tuntas      
7    Dwi Sinta    85    Tuntas      
8    Edi Suwarno    65    Tuntas      
9    Fahri Kurniawan    60    Remidi      
10    Fitri Halimah    65    Tuntas      
11    Fitri Susanti    70    Tuntas      
12    Fitriana    60    Remidi      
13    Iis Kurnia    60    Remidi      
14    Irvan    70    Tuntas      
15    Jefri Adi Saputra    75    Tuntas      
16    Jesika Devi Dayana    60    Remidi      
17    Malik Ridwan    65    Tuntas      
18    Malisa Ike Safitri    60    Remidi      
19    Martini    65    Tuntas      
20    Miseh Lestari    75    Tuntas      
21    Novita Dewi Astuti    90    Tuntas      
22    Nur Irsyad Ade Novian    75    Tuntas      
23    Oky Prasetya    80    Tuntas      
24    Rama Dani    80    Tuntas      
25    Reny Wiji Asmoro    85    Tuntas      
26    Rico Febrian    85    Tuntas      
27    Rizki Hadi Permana    85    Tuntas      
28    Runtiyani    70    Tuntas      
29    Samsul    75    Tuntas      
30    Tivani Noveliana Firdaus    70    Tuntas      
31    Wahyu Aji Wibowo    65    Tuntas      
32    Yuli Dwi Riyanti    60    Remidi      
Jumlah    2300          
Rata-Rata    71.88       
Dari tabel di atas dapat diketahui :
    Nilai Rata-rata        2300 : 32 = 71.8750
Lampiran 4
Data Hasil Kemampuan Membaca pada Siklus III
SKM = 65

No    Nama    Nilai    Keterangan      
1    Alvian    80    Tuntas      
2    Atika Sulistyowati    70    Tuntas      
3    Aziz Marjuki    80    Tuntas      
4    Bayu Ariyanto Arbi    95    Tuntas      
5    Danang Saputra    90    Tuntas      
6    Dela Galuh Agustin    90    Tuntas      
7    Dwi Sinta    95    Tuntas      
8    Edi Suwarno    75    Tuntas      
9    Fahri Kurniawan    70    Tuntas      
10    Fitri Halimah    75    Tuntas      
11    Fitri Susanti    80    Tuntas      
12    Fitriana    70    Tuntas      
13    Iis Kurnia    70    Tuntas      
14    Irvan    80    Tuntas      
15    Jefri Adi Saputra    85    Tuntas      
16    Jesika Devi Dayana    70    Tuntas      
17    Malik Ridwan    80    Tuntas      
18    Malisa Ike Safitri    70    Tuntas      
19    Martini    75    Tuntas      
20    Miseh Lestari    85    Tuntas      
21    Novita Dewi Astuti    100    Tuntas      
22    Nur Irsyad Ade Novian    85    Tuntas      
23    Oky Prasetya    90    Tuntas      
24    Rama Dani    90    Tuntas      
25    Reny Wiji Asmoro    95    Tuntas      
26    Rico Febrian    95    Tuntas      
27    Rizki Hadi Permana    95    Tuntas      
28    Runtiyani    80    Tuntas      
29    Samsul    85    Tuntas      
30    Tivani Noveliana Firdaus    80    Tuntas      
31    Wahyu Aji Wibowo    75    Tuntas      
32    Yuli Dwi Riyanti    70    Tuntas      
Jumlah    2625          
Rata-Rata    82.0313       
Dari tabel di atas dapat diketahui :
    Nilai Rata-rata        2625 : 32 = 82.03
Lampiran 5
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Nama Sekolah            : SMPN 2 Purwantoro Wonogiri
Mata Pelajaran            : Mulok Bahsa Jawa
Kelas / Semester            : VIII / I

Standar Kompetensi        :
    Membaca ragam teks sastra dan non sastra dengan berbagai tekhnik
Kompetensi Dasar        :
3.2    Menemukan pokok pikiran suatu teks dengan membaca cepat -/+ 100 kata permenit
Indikator            :
Mampu mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan teman
Mampu menjawab pertanyaan dengan peluang kecepatan 75%
Mampu menyimpulkan atau menemukan pokok pikiran suatu teks
Mampu menemukan kata-kata yang bersinonim (dasa nama) dan berantonim (kosok balen )
Alokasi Waktu        : 4 X 40 menit ( 2X pertemuan )
Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat menemukan pokok pkiran suatu teks dengan membaca cepat kurang lebih 100 kata permenit


Materi Pembelajaran
Teks bacaan ( penyimpulan pook pikiran dengan membaca cepat 100 kata permenit )
Mencari tembung dasa nama pada teks bacaan
Mencari tembungkosok balen pada teks bacaan
Metode Pembelajaran
Learning Community
Tanya Jawab
Penugasan
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama
Kegiatan Awal :
Siswa dan guru mempersiapkan teks bacaan yang akan dibaca
Mengkondisikan kelas untuk kegiatan pembelajarn membaca
Kegiatan Inti :
Siswa secara berpasangan bergantian membaca teks bacaan dan yang lain mengukur kecepatannya
Siswa membentuk kelompok
Siswa menjawab pertanyaan bacaan yang sudah disiapkan
Siswa menemukan/menyimpulkan pokok pikiran bacaan
Siswa menemukan kata-kata yang bersinonim dan berantonim dari teks bacaan

Kegiatan Akhir
Guru dan siswanya melakukan refleksi
Guru menyampaikan hal-hal yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya
Pertemuan Kedua
Kegiatan Awal
Siswa dan guru mempersiapkan teks bacaan yang akan dibaca
Mengkondisikan kelas untuk kegiatan pembelajaran membaca
Kegiatan Inti
Siswa membaca teks berita dan yang lain mengukur kecepatannya
Siswa menjawab pertanyaan berita yang sudah disiapkan
Siswa membentuk kelompok
Siswa menyimpulkan pokok pikiran dari teks berita
Kegiatan Akhir
Siswa bersama guru menyimpulkan kegiatan pembelajaran yang baru selesai dilaksanakan
Siswa bersama guru merangsang kegiatan pembelajaran berikutnya berdasarkan KD yang ada
Sumber Belajar
Stop Watch
Buku Teks
Bacaan umum dari majalah Panyebat Semangat + Jaya Baya

Penilaian
Tekhnik            : Tugas Individu
Bentuk Instrument    : Performance + Tes  Uraian












Lampiran 6
Instrumen

Gegeran Kolam Brantas durung tuntas

    Rebutan Kolam Renang Brantas ( KRB ) antarane Pemkot lan Tedja Bawono bakal ndadi maneh. Sebab ana kabar sumebar manawa KRB ing Jl. Irian Barat iku enggal dieksekusi maneh sawise bola-bali gagal. Nanging Pemkot nyaguhi mertahanke asset kasebut.
    Saliyane wis nglaporake panduga perkara pidana walik muncule sertifikat atas nama Tedja, Pemkot ningkatake panganggone KRB kanggo kagiyatan-kagiyatane masyarakat, kaya kanggo kajuwaraan renang antar SMA mentas iku.
    Wali Kota Surabaya Drs.Bambang DH, nalika dijaluki katerangane ing sela-selaning pambukaan kejuaraan renang kasebut mretelakake yen Pemkot tansah mbudidaya sarosane supaya asset mau ora nduweni wong liya lan tetep migunani tumrap kepentinagn umum.
( Panyebar Semangat 38-15 )

Ukuren cepete anggone maca kancamu

No    Kegiatan    Skor      
1    Membaca dengan kecepatan 100 kata permenit    3      
2    Membaca dengan kecepatan 100 kata lebih dari 1 menit    2      
3    Membaca dengan kecepatan 100 kata lebih dari 2 menit    1   

Apa pokok pikiran kang kinandhut ing wacan, tulisen sing cetha !

No    Aspek    Diskriptor    1    2    3      
1    Kesesuaian pokok pikiran    Isi pokok pikiran sesuai dengan bacaan                  
2    Penulisan pokok pikiran bacaan    Penulisan pokok pikiran benar               


Golekana tembung kosok balen kang ana wacan !

No    Kegiatan    Skor      
1    Dapat menyimpulkan dengan benar dan lengkap    3      
2    Dapat menyimpulkan dengan benar dan kurang lengkap    2      
3    Salah / tidak berhasil menemukan    1   

No comments:

Post a Comment

Post a Comment